Rabu, 05 Oktober 2016

AGAMA DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI

Agama berwajah ganda bukanlah sebuah pernyataan yang berlebihan. Di satu pihak, agama telah memajukan peradaban manusia, yakni menghormati kehidupan, menjunjung kemanusiaan yang universal, dan mencintai hak-hak asasi manusia. Tetapi di pihak lain, agama telah menimbulakan perpecahan, konflik, dan pemusnahan hidup manusia. Agama di satu sisi mempersatukan ke dalam, tetapi di sisi lain mempertegas perbedaannya dari kelompok lain yang kadang-kadangberujung pada konflik sosial.

Sementara itu, hampir setiap agama percaya bahwa agama yang dianutnya adalah agama yang paling benar dan berusaha menyebarluaskan apa yang dipercayainya sebagai kebenaran itu. Kepercayaan seperti itu pasti akan menimbulkan konflik di tengah masyarakat yang memeluk bermacam-macam agama. Padahal kalau diamati sungguh-sungguh agama adalah juga sebuah konstruksi sosial. Kepercayaan terhadap wujud Tertinggi diberi bentuk pengungkapan oleh masyarakat pemeluk. Hal itu berarti bahwa aspek-aspek sosial kemasyarakatan juga memengaruhi kehidupan beragama.

Agama merupakan suatu kekuatan yang berpengaruh dan paling dirasakan di dalam kehidupan manusia. Dia memengaruhi manusia dalam segala aspek kehidupannya. Kepercayaan-kepercayaan dan nilai-nilai agama memberi motivasi kepada manusia dalam bertingkah laku dan memengaruhi kelompok di dalam menata kehidupan mereka bersama. Hubungan antara agama dan masyarakat bersifat timbal balik. Di satu puhak, agama memainkan peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Di pihak yang lain, kehidupan masyarakat memengaruhi agama. Bahkan, kehidupan masyarakat memberi bentuk kepada pelaksanaan kehidupan beragama.

Para sosiolog tertarik untuk membuat study tentang karena dua alasan. Pertama, agama merupakan sesuatu yang sangat penting untuk kebanyakan orang. Praktik-praktik keagamaan merupakan bagian-bagian penting di dalam kehidupan banyak orang. Selain itu, nilai-nilai agama memengaruhi tingkah laku para pemeluknya. Tambahan pula, arti-arti yang diberikan oleh agama membantu manusia dalam memberikan interpretasi atas pengalaman sehari-hari. Itulah sebabnya, sosiologi berminat untuk mempelajari makna agama bagi para pemeluknya.

Kedua, agama memengaruhi masyarakat dan sebaliknya masyarakat memengaruhi kehidupan beragama. Analisis tentang hubungan yang bersifat dinamis di antara keduanya menuntut kita untuk meneliti hubungan kesaling-bergantungan antara agama dan institusi-institusisosial lainnya lainnya di dalam masyarakat. Hal ini seringkali berarti bahwa kita harus berani memeriksa kembali tingkah laku atau praktik-praktik kehidupan keagamaan kita yang diterima begitu saja dari hari ke hari. Sejak awal mula berdirinya sosiologi, para ilmuwan sosial berusaha memahami masyarakat dengan membuat penelitian tentang agama dan pengaruh masyarakat.

Hubungan timbal balik antara agama dan masyarakat merupakan tema pokok dalam pembahasan sosiologi agama. Fokus study sosiologi agama tentang agama tentu berbeda dari fokus study teologi tentang agama. Karena itu, pada bagian berikut saya akan membahas hakikat perspektif sosiologi agama dalam perbandingannya dengan teologi. 

HAKIKAT PERSPEKTIF SOSIOLOGIS TENTANG AGAMA

Agama adalah sesuatu yang bersifat sangat pribadi dan secara umum disegani oleh manusia. Karena penghayatan yang bersifat pribadi itu, kadang-kadang agama sulit dianalisis dengan menggunakan perspektif sosiologis yang selalu bersifat sosial. Perspektif sosiologis yakni merupakan satu cara pandang tentang agama yang memusatkan perhatian pada manusia yang mempraktikkan kehidupan beragama itu. Memang benar bahwa agama di satu sisi bersifat individual, tetapi di pihak lain dia juga bersifat sosial. Pengalaman mistik keagamaan yang apada dasarnya bersifat subjektif selalu diberikan arti secara sosial. Hal itu berarti bahwa pengalaman mistik tersebut diinterpretasi sesuai dengan konteks-konteks yang sudah tersedia di dalam komunitas agama yang bersangkutan. Pertobatan misalnya, merupakan pengalaman keagamaan yang bersifat pribadi dan subjektif. Tetapi, pengalaman pertobatan diinterpretasi berdasarkan kesepakatan-kesepakatan sosial di dalam komunitas agama tersebut.

 Ada dua ciri pokok perspektif sosiologis tentang agama yang membedakan dia dari pendekatan non-ilmiah dalam study tentang agama. Kedua ciri tersebut adalah sifatnya empiris dan objektif. Sifat empiris itu tampak dalam kenyataan bahwa di dalam study sosiologis tentang agama, para sosiolog berusaha mendasarkan interpretasinya pada data. Mereka berusaha membuktikan bahwa penjelasan mereka tentang kenyataan sosial yang disebut agama itu didasarkan pada pengalama-pengalaman konkret. Sedangkan sifat objektif tampak dalam kenyataan bahwa interpretasi-interpretasi sosiologis tentang agama sama dibuat menurut apa adanya (das sein) dan bukan menurut apa yang seharusnya (das sollen). Para ilmuan sosial sama sekali tidak bermaksud untuk menilai, menerima, atau menolak isi dari agama-agama itu. Bahkan demi objektivitas studynya, mereka mengesampingkan atau mengurungkan “Bracketting and suspending” pendapat-pendapat pribadinya tentang agama dan berusaha untuk seobjektif mungkin mengamati dan menafsirkan fenomena keagamaan yang sedang diteliti. Seturut perspektif sosiologis, tidak agama yang superior atau inferior terhadap agama yang lain.

 Perspektif sosiologis tentang agama yang demikian mungkin menimbulkan rasa tidak enak bagi kebanyakan orang yang telah bertahun-tahun menghayati kehidupan keagamaan dengan penuh antusiasme. Kini mereka harus berhadapan dengan kenyataan bahwa agama yang dianggap suci itu diobrak abrik menjadi fenomena sosial semata-mata. Kadang-kadang seorang merasa tidak enak ketika agamanya dibanding-bandingkan dengan agama-agama lain atau bahkan dianggap sama saja dengan agama lain. Memang harus diakui bahwa perspektif seorang beriman tentang agama pasti berbeda dengan seorang sosiolog. Perspektif seorang beriman tentang agama didasari pada iman seturut ajaran agamanya sedangkan perpektif seorang sosiolog di dasarkan pada data empiris semata-mata. Tetapi, baik pandangan seorang beriman maupun seorang sosiolog tentang agama tidak lengkap di dalam dirinya. Keduanya tidak mewakili pandangan yang menyeluruh tantang agama, namun bisa saling melengkapi dan memperkaya.

Tidak ada komentar: